Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL) DKI Jakarta menggelar seminar nasional hybrid bertajuk “Penguatan Keamanan Siber Nasional Berbasis Artificial Intelligence dalam Menghadapi Ancaman Siber Global” di Auditorium Asix Indonesia Cerdas, Menteng, Jakarta. Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta secara luring dan lebih dari 400 peserta daring dari berbagai daerah.

Seminar tersebut menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, hingga pemangku kepentingan dalam merespons eskalasi ancaman siber global yang kian kompleks, terutama akibat pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI).


Ketua IKAL Lemhannas RI, Purnomo Yusgiantoro, menegaskan bahwa keamanan siber kini tidak lagi sekadar isu teknis, melainkan bagian dari ketahanan nasional. Ia menyoroti pentingnya tiga pilar utama dalam menghadapi era digital, yakni strategi, sumber daya manusia, dan teknologi.

“Tanpa strategi yang matang, SDM unggul, dan penguasaan teknologi yang kuat, kedaulatan digital Indonesia akan berada dalam posisi rentan,” ujar Purnomo dalam keterangannya, Rabu, 29 April 2026.

Senada, Ketua IKAL DKI Jakarta, Sylviana Murni, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ketahanan siber nasional. Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi keamanan siber melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.


Dari sektor utilitas publik, perwakilan PAM Jaya mengingatkan bahwa infrastruktur layanan dasar seperti air memiliki kerentanan tinggi terhadap serangan siber. Serangan terhadap sistem ini, kata dia, bahkan berpotensi mengubah parameter kimia air yang berdampak langsung pada keselamatan masyarakat.

Dalam sesi pemaparan utama, akademisi Institut Teknologi Bandung, Ian Josef Matheus Edward, menjelaskan bahwa AI telah mengubah lanskap ancaman siber secara fundamental. Menurutnya, serangan yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu kini bisa dilakukan dalam hitungan menit dengan bantuan AI.


Ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari rendahnya investasi keamanan siber hingga tingginya kerentanan di sektor publik dan BUMN. Meski demikian, ia menilai talenta digital Indonesia memiliki daya saing global, namun belum mendapat apresiasi optimal di dalam negeri.

“Diperlukan pergeseran menuju sistem pertahanan berbasis AI yang mampu bekerja secara otonom dan real-time,” tegasnya.

Sementara itu, pakar keamanan siber global, Krishna Rajagopal, mengulas ancaman Deepfake yang dinilai sebagai salah satu risiko paling signifikan di era AI. Teknologi ini memungkinkan pembuatan konten audio dan video yang sangat realistis, sehingga sulit dibedakan dari yang asli.


“Deepfake tidak hanya memicu penipuan digital, tetapi juga berpotensi menciptakan disinformasi dan merusak reputasi secara sistemik,” katanya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Pancasila, Marsudi Wahyu Kisworo. Ia menekankan perlunya pergeseran pendekatan dari sekadar cybersecurity menuju cyber resilience.


“Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan mencegah, tetapi juga kemampuan bertahan, beradaptasi, dan pulih dengan cepat dari serangan,” ujarnya.

Diskusi yang dimoderatori Bayu Prawira Hie berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi peserta. Sejumlah isu strategis mengemuka, mulai dari kesiapan regulasi, kebutuhan talenta digital, hingga pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta.

Dari forum ini, sejumlah poin strategis disepakati, antara lain peningkatan investasi keamanan siber, penguatan literasi digital masyarakat, serta percepatan adopsi teknologi berbasis AI dalam sistem pertahanan siber nasional.


Melalui kegiatan ini, IKAL DKI Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan nasional, khususnya di bidang keamanan siber. Seminar ini diharapkan menjadi katalis dalam membangun ekosistem keamanan siber yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global di tengah dinamika ancaman yang terus berkembang.